IFJ condemns Attack of Luviana
Posted on | January 17, 2013 | No Comments
Media Release: Indonesia
January 17, 2013
IFJ condemns Attack of Luviana Ariyanti by member of National Democratic Party (Nasdem)
The International Federation of Journalists (IFJ) joins its affiliate the Alliance of Independent Journalists (AJI) in strongly condemning the violence committed by members of the National Democratic Party (Nasdem) against former Metro TV journalist, Luviana Ariyanti and supporters during a protest outside the Nasdem office on Wednesday, January 16, 2013.
No CR – EAT – IVITY Without EAT
Posted on | November 28, 2012 | 1 Comment
Bagaimana mungkin kita dapat bekerja dengan tenang dan berkreasi dengan optimal, kalau urusan perut belum selesai.
Ini oleh-oleh dari diskusi live acara “Dewan Pers Kita” di TVRI semalam, Selasa 27 November, pukul 21.00-22.00 WIB bersama anggota Dewan Pers Wina Armada, staf khusus Menteri Tenaga Kerja Dita Indah Sari dan advokat masalah perburuhan Kemalsjah Siregar. Dalam diskusi yang resminya bertema “Kontroversi Gerakan Buruh dan Pers”, saya, Jojo Raharjo, diundang sebagai Ketua Divisi Serikat Pekerja Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.
“Kalau saat ini disurvei, mungkin semakin sedikit jumlah anak muda Indonesia yang berminat menjadi jurnalis,” kata Jojo dengan mengawali keprihatinan terhadap rangkaian kekerasan yang menimpa jurnalis, seperti terjadi di Padang, Riau, dan Manado.
Jerman-1: Ditipu!
Posted on | July 14, 2012 | No Comments
24 Mei 2010, pukul 6 pagi di hotel 35 Euro-an , setengah blok dari stasiun kereta Hauptbahnhof Munich. Setelah video penyolatan jenazah Ainun Habibie terkirim ke Trans TV Jakarta, dengan satu koper, saya bergegas mencari taksi. Udara dingin, sopir keturunan Turki tak bisa menemukan alamat yang saya beri di GPS-nya. Argo hidup, ia mengutak-atik alamat tujuan. Di tengah perjalanan, saya lelah, tertidur.
Lima jam sebelumnya, saya melaporkan langsung penyemayaman jenazah Ainun untuk program Reportase Pagi Trans TV. Dari hotel di pusat kota, butuh waktu sekitar satu jam menuju rumah almarhum, sudah termasuk berjalan kaki 2 km menelusuri pemukiman hijau warga kelas atas Jerman. Tak ada sinyal di dalam rumah elit almarhum. Di seberang jalan yang sepi, di bawah temaram lampu dan pepohonan rindang adalah pilihan tepat. Suara penyiar terdengar jelas, “control room” selalu berisik.
Setelah selesai, saya kembali ke rumah almarhum dan berbicara dengan Thariq Habibie. Almarhum bersemayam sekitar 5 meter dari kami. Pak Habibie tak bisa diwawancarai. Thariq menawarkan saya untuk ikut dalam rombongan keluarga, pulang ke Indonesia pakai Garuda, berangkat sekitar jam 7 pagi dari rumahnya.
Tiba-tiba saya terbangun, taksi berhenti dekat rumah Habibie. Ajaib, dia bisa menemukan alamat, dan tepat! Semua orang sibuk. Saya ditolak ketika bertanya tentang mobil yang bisa ditumpangi ke bandara Munich. Saya cari akal. Ada kursi kosong di sebuah mobil panjang. Saya bisa melihat tanda nama barang di belakang mobil, penuh koper keluarga Habibie.
Sang sopir adalah pegawai Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Ia sangat ramah, sudah lama tinggal di Jerman. Obrolan kami hangat dan ringan. Ditengah perjalanan, ia menjawab panggilan telepon. Saya bisa mendengar penelpon sedang mengkonfirmasi keberadaan saya. Setelah itu, saya hanya bisa mendengar jawaban “ya,ya,ya” dari sopir. Rupanya ada pembiacaraan rahasia. Perasaan saya tak enak.
Iringan mobil sampai di bandara. Seorang pria muda, pegawai KBRI turun dari mobil depan, menemui saya. “Silahkan mas turun disini,” kira-kira kalimat darinya yang bisa saya ingat. Saya kemudian bertanya tentang tempat berkumpul. Menurutnya, lokasi dimana saya diturunkan adalah tempat berkumpul nantinya. “Sebaiknya kuturuti saja,” kata hati saya. Koper sudah ditangan. Tapi kenapa tiba-tiba semua mobil melaju kencang? Perasaan saya tak karuan, sama seperti para jurnalis di Indonesia yang menunggu kedatangan almarhum. Aduh, saya ditipu!
Saya kemudian masuk ke ruang bandara, bertanya ke ibu tua, petugas informasi. Walaupun tua, penjelasannya masuk akal. Ia berkata bahwa pesawat Garuda(yang membawa jenazah) berada di zona khusus, dan bisa diakses melalui ruangan khusus. Ia jelaskan juga bagaimana cara menuju ke ruang parkir khusus, tempat rombongan mobil Habibie kemungkinan berada.
Sudahlah. Saya kirim sms ke producer eksekutif di Jakarta tentang keadaan tersebut. Demi harga diri, saya putuskan tidak melanjutkan keinginan “nebeng”. Ia setuju dan bertanya tentang keuangan saya.
Pagi itu, saya bisa sarapan enak di bandara, kemudian melanjutkan perjalanan ke Hamburg, supaya bisa terbang ke Indonesia esok paginya. Di dalam kereta, seorang produser bertanya tentang gambar pesawat Garuda. “Kapan-kapan ke Jerman ya mas,” sms balasan saya. Ketus. Dia pikir seperti meliput di Indonesia? Capek deh…
~Kereta ekonomi AC Jogja-Jakarta~
Melawan Penindasan Si Gurita
Posted on | May 2, 2012 | 1 Comment
Hari Buruh atau May Day 2012 menjadi momen perlawanan jurnalis terhadap kapitalisme yang kian menginjak para pekerja.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kembali tampil beda dalam unjuk rasa besar-besaran memperingati Hari Buruh alias May Day, 1 Mei 2012. Kalau pada 2009 AJI mengusung seni instalasi bola dunia yang digelindingkan dari Bundaran Hotel Indonesia menuju ke Istana Merdeka, lalu pada 2010 membawa perahu raksasa dan 2011 menggotong penjara kayu, tahun ini AJI menyimbolkan gurita dan kapitalis asing sebagai lawan bersama.
Jurnalis dan Buruh Demo Metro TV dan IFT
Posted on | April 24, 2012 | No Comments
Aksi ini juga dimaksudkan sebagai pemanasan May Day. Menolak kesewenang-wenangan PHK oleh perusahaan media.
Selasa (24/4) siang, dua bis Metromini trayek 91 jurusan Kampung Melayu-Manggarai berarakan menuju kawasan barat Jakarta. Berangkat dari markas LBH Jakarta di kawasan Jl. Diponegoro, iring-iringan Metromini bersama motor dan mobil bak terbuka berpelantang nyaring ini punya misi menentang ketidakadilan yang dialami pekerja media di dua perusahaan.
Lokasi pertama ke kantor Metro TV di Kedoya. Tepat jam 12, aksi dimulai di kantor yang berdiri megah laksana hotel berbintang itu. Maklum pemiliknya, Surya Paloh, juga dikenal sebagai bos hotel, setidaknya Hotel Papandayan di Bandung dan Hotel Sheraton Media di Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekitar 70 jurnalis dan buruh mengambil posisi, berbaris, lalu berorasi, membela Luviana, produser Metro TV, yang dinon-jobkan dari ruang redaksi akibat sikapnya mengkritisi kebijakan perusahaan. Para pengunjuk rasa berdiri tertib di luar pagar utama, dipisahkan belasan polisi dan keamanan internal yang memelototi aksi itu. Di belakang para penjaga, beberapa karyawan Metro TV dan Harian Media Indonesia ikut nimbrung menyaksikan unjuk rasa.
Dukung Luviana Bekerja Kembali di Metro TV
Posted on | March 1, 2012 | 5 Comments
Elemen buruh, jurnalis dan aktivis sepakat membentuk koalisi bernama METRO (Melawan Topeng Restorasi).
Sekitar 70 orang berkumpul di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta untuk menyuarakan dukungan terhadap Luviana, produser Metro TV yang dinonjobkan manajemen karena dianggap vokal memperjuangkan kesejahteraan karyawan.
Saat ini, dari tekad mengumpulkan ‘1000 dukungan untuk Luviana’ total dukungan sudah menembus angka 600 orang dan masih terus bertambah. Selain AJI Jakarta dan AJI Indonesia, rapat koalisi yang digelar Rabu (29/2) dihadiri berbagai perwakilan diantaranya LBH Jakarta, LBH Pers, PBHI, FSPM Independen, Kontras, KJI, KSN, AJI Palu, SALUD, FMKJ, FPPI, Migrant Care, Jurnal Perempuan, Somasi, Kapal Perempuan, Kedai Kopi Bhineka dan Inspirasi Indonesia.
Info Penghargaan “Ulrich Wickert Award” untuk jurnalis
Posted on | January 27, 2012 | 2 Comments
Setiap tahun, Ulrich Wickert Foundation memberikan penghargaan kepada jurnalis, untuk setiap artikel dan laporan jurnalistik terbaik yang mengangkat persoalan hak-hak anak di seluruh dunia. Penghargaan jurnalistik ini juga didedikasikan bagi anak-anak di negara berkembang, yang menyuarakan hak-hak mereka sendiri, dalam proyek media Plan International.
Umar – Dian, Duet Baru Pimpin AJI Jakarta
Posted on | January 22, 2012 | 1 Comment
Dalam tiga tahun ke depan, AJI Jakarta bertekad memperbanyak anggota hingga mencapai 600 orang.

Wahyu Dhyatmika (kiri), Ketua AJI Jakarta 2009-2012, secara simbolis menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Umar Idris (tengah) dan Dian Yuliastuti. Tugas berat menanti.
Melalui sebuah Konferensi Kota di Hotel Santika, Sabtu (21/1) duet Umar Idris dan Dian Yuliastuti resmi mendapat amanat sebagai Ketua dan Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta untuk masa kepengurusan 2009-2012. Umar Idris sebelumnya menjabat Sekretaris Cabang, saat AJI Kota dipimpin Wahyu “Komang” Dhyatmika sejak awal 2009 silam.
Pada kepengurusan 2009-2012, duet Komang-Umar mencatat beberapa prestasi, antara lain mewujudkan sekretariat permanen di kawasan Kalibata, penyelesaian sengketa ketenagakerjaan maupun etik, kampanye anti suap, upah layak, dan pembentukan Serikat Pekerja Pers, serta berbagai training jurnalisme baik yang digelar sendiri maupun bekerjsama dengan pihak lain. Pada pertengahan 2010, AJI Jakarta memberangkatkan 18 jurnalis mengikuti pelatihan tentang media online dalam menjaga kebebasan pers di Belanda, yang kemudian melahirkan situs “Media Independen” ini.
Tujuh jurnalis raih penghargaan Apresiasi Jurnalis Jakarta (AJJ) 2011
Posted on | January 22, 2012 | No Comments
Apresiasi Jurnalis Jakarta menjadi salah satu penghargaan tahunan bergengsi bagi jurnalis.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta telah memilih tujuh karya terbaik tahun 2011, pada Sabtu, 21 Januari 2012 di Hotel Santika, Slipi, Jakarta. Penghargaan yang diberi nama Apresiasi Jurnalis Jakarta (AJJ) 2011 sebagai upaya mengapresiasi dan memotivasi para jurnalis menghasilkan karya yang berstandar tinggi, orisinal dan berdampak bagi khalayak luas.
Dari kategori feature/in depth reporting, pemenangnya adalah karya Ahmad Arief (KOMPAS) berjudul “Toba Mengubah Dunia”. Sedangkan untuk kategori investigasi untuk media cetak, pemenangnya adalah karya Wahyu Dhyatmika (TEMPO) berjudul “Asuransi Hampa Pahlawan Devisa”.
Untuk kategori feature/in depth reporting media televisi adalah karya Widyaningsih (KOMPAS TV) berjudul,”Terkepung Asap Polusi., dan untuk kategori investigasi media televisi adalah karya Agung Prasetyo (MNC TV) bertajuk, “Semprotan Racun Kimia di Ikan Asin.” Untuk pemenang kategori feature/in depth reporting di media radio adalah karya Irvan Imamsyah (KBR 68H) berjudul,”Menelusuri Penyerang Cikeusik.” Read more
Putusan KPPU Soal Indosiar, Dinilai Bertentangan dengan UU Penyiaran
Posted on | December 29, 2011 | No Comments
PADA 21 Desember 2011 lalu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan akuisisi stasiun televisi Indosiar (PT. Indosiar Karya Media) oleh pemilik stasiun televisi SCTV (PT Elang Mahkota Teknologi Tbk) tidak melanggar peraturan. Menurut KPPU, penilaian tersebut dibuat dengan mempertimbangkan nilai omset dan aset gabungan dua perusahaan tersebut, yang diperkirakan tidak melanggar batasan minimal di dalam peraturan perundang-undangan.
Read more







