Melawan Penindasan Si Gurita
Posted on | May 2, 2012 | No Comments
Hari Buruh atau May Day 2012 menjadi momen perlawanan jurnalis terhadap kapitalisme yang kian menginjak para pekerja.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kembali tampil beda dalam unjuk rasa besar-besaran memperingati Hari Buruh alias May Day, 1 Mei 2012. Kalau pada 2009 AJI mengusung seni instalasi bola dunia yang digelindingkan dari Bundaran Hotel Indonesia menuju ke Istana Merdeka, lalu pada 2010 membawa perahu raksasa dan 2011 menggotong penjara kayu, tahun ini AJI menyimbolkan gurita dan kapitalis asing sebagai lawan bersama.
Jurnalis dan Buruh Demo Metro TV dan IFT
Posted on | April 24, 2012 | No Comments
Aksi ini juga dimaksudkan sebagai pemanasan May Day. Menolak kesewenang-wenangan PHK oleh perusahaan media.
Selasa (24/4) siang, dua bis Metromini trayek 91 jurusan Kampung Melayu-Manggarai berarakan menuju kawasan barat Jakarta. Berangkat dari markas LBH Jakarta di kawasan Jl. Diponegoro, iring-iringan Metromini bersama motor dan mobil bak terbuka berpelantang nyaring ini punya misi menentang ketidakadilan yang dialami pekerja media di dua perusahaan.
Lokasi pertama ke kantor Metro TV di Kedoya. Tepat jam 12, aksi dimulai di kantor yang berdiri megah laksana hotel berbintang itu. Maklum pemiliknya, Surya Paloh, juga dikenal sebagai bos hotel, setidaknya Hotel Papandayan di Bandung dan Hotel Sheraton Media di Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekitar 70 jurnalis dan buruh mengambil posisi, berbaris, lalu berorasi, membela Luviana, produser Metro TV, yang dinon-jobkan dari ruang redaksi akibat sikapnya mengkritisi kebijakan perusahaan. Para pengunjuk rasa berdiri tertib di luar pagar utama, dipisahkan belasan polisi dan keamanan internal yang memelototi aksi itu. Di belakang para penjaga, beberapa karyawan Metro TV dan Harian Media Indonesia ikut nimbrung menyaksikan unjuk rasa.
Dukung Luviana Bekerja Kembali di Metro TV
Posted on | March 1, 2012 | 1 Comment
Elemen buruh, jurnalis dan aktivis sepakat membentuk koalisi bernama METRO (Melawan Topeng Restorasi).
Sekitar 70 orang berkumpul di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta untuk menyuarakan dukungan terhadap Luviana, produser Metro TV yang dinonjobkan manajemen karena dianggap vokal memperjuangkan kesejahteraan karyawan.
Saat ini, dari tekad mengumpulkan ‘1000 dukungan untuk Luviana’ total dukungan sudah menembus angka 600 orang dan masih terus bertambah. Selain AJI Jakarta dan AJI Indonesia, rapat koalisi yang digelar Rabu (29/2) dihadiri berbagai perwakilan diantaranya LBH Jakarta, LBH Pers, PBHI, FSPM Independen, Kontras, KJI, KSN, AJI Palu, SALUD, FMKJ, FPPI, Migrant Care, Jurnal Perempuan, Somasi, Kapal Perempuan, Kedai Kopi Bhineka dan Inspirasi Indonesia.
Info Penghargaan “Ulrich Wickert Award” untuk jurnalis
Posted on | January 27, 2012 | 2 Comments
Setiap tahun, Ulrich Wickert Foundation memberikan penghargaan kepada jurnalis, untuk setiap artikel dan laporan jurnalistik terbaik yang mengangkat persoalan hak-hak anak di seluruh dunia. Penghargaan jurnalistik ini juga didedikasikan bagi anak-anak di negara berkembang, yang menyuarakan hak-hak mereka sendiri, dalam proyek media Plan International.
Umar – Dian, Duet Baru Pimpin AJI Jakarta
Posted on | January 22, 2012 | 1 Comment
Dalam tiga tahun ke depan, AJI Jakarta bertekad memperbanyak anggota hingga mencapai 600 orang.

Wahyu Dhyatmika (kiri), Ketua AJI Jakarta 2009-2012, secara simbolis menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Umar Idris (tengah) dan Dian Yuliastuti. Tugas berat menanti.
Melalui sebuah Konferensi Kota di Hotel Santika, Sabtu (21/1) duet Umar Idris dan Dian Yuliastuti resmi mendapat amanat sebagai Ketua dan Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta untuk masa kepengurusan 2009-2012. Umar Idris sebelumnya menjabat Sekretaris Cabang, saat AJI Kota dipimpin Wahyu “Komang” Dhyatmika sejak awal 2009 silam.
Pada kepengurusan 2009-2012, duet Komang-Umar mencatat beberapa prestasi, antara lain mewujudkan sekretariat permanen di kawasan Kalibata, penyelesaian sengketa ketenagakerjaan maupun etik, kampanye anti suap, upah layak, dan pembentukan Serikat Pekerja Pers, serta berbagai training jurnalisme baik yang digelar sendiri maupun bekerjsama dengan pihak lain. Pada pertengahan 2010, AJI Jakarta memberangkatkan 18 jurnalis mengikuti pelatihan tentang media online dalam menjaga kebebasan pers di Belanda, yang kemudian melahirkan situs “Media Independen” ini.
Tujuh jurnalis raih penghargaan Apresiasi Jurnalis Jakarta (AJJ) 2011
Posted on | January 22, 2012 | No Comments
Apresiasi Jurnalis Jakarta menjadi salah satu penghargaan tahunan bergengsi bagi jurnalis.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta telah memilih tujuh karya terbaik tahun 2011, pada Sabtu, 21 Januari 2012 di Hotel Santika, Slipi, Jakarta. Penghargaan yang diberi nama Apresiasi Jurnalis Jakarta (AJJ) 2011 sebagai upaya mengapresiasi dan memotivasi para jurnalis menghasilkan karya yang berstandar tinggi, orisinal dan berdampak bagi khalayak luas.
Dari kategori feature/in depth reporting, pemenangnya adalah karya Ahmad Arief (KOMPAS) berjudul “Toba Mengubah Dunia”. Sedangkan untuk kategori investigasi untuk media cetak, pemenangnya adalah karya Wahyu Dhyatmika (TEMPO) berjudul “Asuransi Hampa Pahlawan Devisa”.
Untuk kategori feature/in depth reporting media televisi adalah karya Widyaningsih (KOMPAS TV) berjudul,”Terkepung Asap Polusi., dan untuk kategori investigasi media televisi adalah karya Agung Prasetyo (MNC TV) bertajuk, “Semprotan Racun Kimia di Ikan Asin.” Untuk pemenang kategori feature/in depth reporting di media radio adalah karya Irvan Imamsyah (KBR 68H) berjudul,”Menelusuri Penyerang Cikeusik.” Read more
Putusan KPPU Soal Indosiar, Dinilai Bertentangan dengan UU Penyiaran
Posted on | December 29, 2011 | No Comments
PADA 21 Desember 2011 lalu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan akuisisi stasiun televisi Indosiar (PT. Indosiar Karya Media) oleh pemilik stasiun televisi SCTV (PT Elang Mahkota Teknologi Tbk) tidak melanggar peraturan. Menurut KPPU, penilaian tersebut dibuat dengan mempertimbangkan nilai omset dan aset gabungan dua perusahaan tersebut, yang diperkirakan tidak melanggar batasan minimal di dalam peraturan perundang-undangan.
Read more
Vin dan Rezki: Kisah Buruh Tanpa Jaminan Sosial
Posted on | October 28, 2011 | 1 Comment
Oleh Arfi Bambani Amri
“Rezki telah menghadap pencipta. Mohon dimaafkan segala dosanya.”
Pesan singkat itu saya baca saat dalam taksi menuju bekas kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di Jalan Veteran III. Saya merasa bersalah, karena sebelumnya telah berjanji membesuk Rezki Hasibuan, jurnalis Kantor Berita Radio 68H, yang akhir meninggal setelah dirawat di intensive care unit sebuah rumah sakit swasta itu. Saya gagal membesuk karena mendadak diminta mewawancara seorang pejabat yang kini berkantor di Veteran III itu.
Hati saya haru biru, sebiru cat taksi yang saya tumpangi menuju gedung di sebelah istana itu. Di gedung ini pula saya pertama kali berkenalan dengan Vincentia Hanni, jurnalis Kompas yang juga telah berpulang karena sakit kanker yang diidapnya. Hari itu, hari pertama saya meliput sebagai seorang wartawan profesional untuk sebuah media dotcom. ”Gue ingat gaya lo saat itu, kayak sales,” kata Vin beberapa tahun kemudian mengenang masa itu saat kami lagi liputan bersama lagi di kantor KPK yang baru di Kuningan (hari pertama bekerja itu, memang saya memakai celana bahan, sepatu pantofel dan kemeja licin). Beberapa bulan setelah percakapan itu, Vin pun sekarat karena kanker. Read more
Jurnalis, membaca dan sosial media
Posted on | October 25, 2011 | 1 Comment
“Berapa orang di antara rekan-rekan yang pernah meliput bencana?”
Sontak tangan-tangan pun terangkat tinggi penuh semangat.
“Oke, kalau begitu pasti tahu dong undang-undang penanggulangan bencana kita nomor berapa. Atau setidaknya ada yang pernah membacanya?” Read more
Mendesak, Pembahasan RUU Penyiaran
Posted on | October 22, 2011 | 1 Comment

Diskusi masa depan penyiaran Indonesia di press room DPR RI. Menanti revisi UU Penyiaran dengan semangat anti monopoli.
Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran (KIDP) mendesak Komisi I DPR RI untuk segera membahas revisi UU Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Pasalnya, kendati sudah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2011, namun Komisi I belum juga menyelesaikan proses tersebut. Padahal revisi mendesak dilakukan untuk menyelesaikan karut-marut dunia penyiaran Indonesia.
keep looking »





