Media Independen

Portal tentang Independensi Media

Vin dan Rezki: Kisah Buruh Tanpa Jaminan Sosial

Posted on | October 28, 2011 | 1 Comment

Oleh Arfi Bambani Amri

“Rezki telah menghadap pencipta. Mohon dimaafkan segala dosanya.”

Pesan singkat itu saya baca saat dalam taksi menuju bekas kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di Jalan Veteran III. Saya merasa bersalah, karena sebelumnya telah berjanji membesuk Rezki Hasibuan, jurnalis Kantor Berita Radio 68H, yang akhir meninggal setelah dirawat di intensive care unit sebuah rumah sakit swasta itu. Saya gagal membesuk karena mendadak diminta mewawancara seorang pejabat yang kini berkantor di Veteran III itu.

Hati saya haru biru, sebiru cat taksi yang saya tumpangi menuju gedung di sebelah istana itu. Di gedung ini pula saya pertama kali berkenalan dengan Vincentia Hanni, jurnalis Kompas yang juga telah berpulang karena sakit kanker yang diidapnya. Hari itu, hari pertama saya meliput sebagai seorang wartawan profesional untuk sebuah media dotcom. ”Gue ingat gaya lo saat itu, kayak sales,” kata Vin beberapa tahun kemudian mengenang masa itu saat kami lagi liputan bersama lagi di kantor KPK yang baru di Kuningan (hari pertama bekerja  itu, memang saya memakai celana bahan, sepatu pantofel dan kemeja licin). Beberapa bulan setelah percakapan itu, Vin pun sekarat karena kanker.

Di gedung ini juga beberapa kali saya liputan bersama Rezki Hasibuan. Aslinya, Rezki yang gempal ini liputan di Markas Besar Kepolisian dan Kejaksaan Agung. Meski hanya beberapa kali bertemu liputan, kami sangat akrab. Selain mungkin karena sama-sama Sumatera, dia dari Medan dan saya dari Padang, selera musik kami pun hampir mirip meski dia lebih cenderung ke punk, saya lebih condong ke grunge. Rezki mantan aktivis, saya pun boleh dikata aktivis pula saat kuliah. Kami pun sama-sama anggota Aliansi Jurnalis Independen, anti-amplop jadi komitmen kami. Seperti Vin, Rezki juga sangat getol memberitakan korupsi.

Jadilah, ketika menunggu nara sumber sekitar 1,5 jam di lobi gedung bekas KPK berkantor itu, pikiran saya melayang pada Vin dan Rezki. Teringat masa malam-malam bersama Vin menunggu pimpinan KPK meninggalkan kantor untuk diwawancara mengenai perkembangan kasus termutakhir. Terkenang pula saat duduk di tangga gedung itu bersama Rezki yang sibuk mengutak-atik rekaman wawancara untuk dijadikan sound bite laporan radio sambil sekali-kali membetulkan kacamata setebal botolnya.

***

Terakhir kali bertemu Rezki di warung di belakang kantornya di Utan Kayu beberapa bulan lalu. Saya ke sana karena mau makan siang dengan mentor saat saya ikut kursus new media di Belanda beberapa bulan sebelumnya. Sang mentor kali ini mengisi sebuah kursus yang diselenggarakan Utan Kayu. Rezki mendatangi saya saat sedang melahap makanan di warung itu. Dia menaruh sebotol air minum kemasan yang ukurannya cuma beberapa ratus mililiter. Lalu memesan makanan, kalau tak salah, nasi pecel. Tampak badan gempalnya agak mengendor dan kulitnya sudah tak secerah awal kami berkenalan.

Rezki bercerita, air yang diminumnya harus ditakar, tak boleh lebih dari 500 mililiter per hari. Sementara untuk makanan, dia berpantang yang pedas dan menyengat, lebih banyak sayuran. Kemudian tiga kali seminggu harus cuci darah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

“Biayanya bagaimana itu, Bang?” saya bertanya. Saya memanggilnya Bang, seperti biasa memanggil laki-laki yang lebih tua di Sumatera.

Rezki menyebut, anggaran kesehatan kantornya sebulan gaji jadi hanya bisa untuk cuci darah sebulan, sama seperti sistem di kantor saya. Asuransi kantor hanya berlaku untuk rawat inap. Untuk cuci darah seperti yang dia lakukan, Rezki harus mencari sendiri.  ”Untunglah gue punya rumah kos,” katanya. Dari rumah kos itulah, Rezki bisa tiga kali seminggu cuci darah yang menelan berjuta-juta rupiah setiap bulan.

Saat itu, pikiran saya langsung melayang ke Belanda, negeri yang saya kunjungi beberapa bulan sebelumnya. Di negeri itu, setiap warga negara wajib memiliki asuransi. Orang yang cuci darah pun ditanggung. Jangankan yang sakit, pengangguran yang sehat pun diberi tunjangan oleh negara.

***

Pagi ini, Jumat 28 Oktober 2011, berita mengenai rencana pengundang-undangan Rancangan Undang-undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial di rapat paripurna DPR muncul. Sebenarnya Megawati Soekarnoputri saat menjadi Presiden sudah menelurkan Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional, namun seperti disebutkan seorang bekas Direktur Jenderal di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Presiden sesudah Megawati hanya menjalankan satu butir dari puluhan butir UU SJSN itu. Pemerintah memilih tetap meneruskan Jaminan Kesehatan Masyarakat yang bekerja bak pemadam kebakaran dan itu pun hanya bisa dikucurkan jika Anda memperoleh surat miskin. Ayah saya yang PNS saja sampai komentar, lebih untung jadi orang miskin daripada PNS karena pakai Askes.

Kini, RUU BPJS ini pun terancam buntu disahkan karena pemerintah terkesan enggan melebur Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) ke dalam BPJS. Sampai Jumat siang, DPR masih deadlock karena Demokrat berkukuh peleburan Jamsostek baru 2016 nanti.

Lagi, pikiran saya melayang pada Rezki dan Vin. Saya teringat Vin karena di akhir masa hidupnya harus berjuang mencari dana untuk bisa mengoperasi kanker yang diidapnya. Seperti halnya Rezki, tak ada asuransi covering all dimiliki Vin. Kami, para jurnalis sudah mengumpulkan sumbangan, namun masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan. Untunglah, Dahlan Iskan, yang saat itu CEO Jawa Pos, membantu Vin berobat ke China. Dahlan yang kini Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara ini memang berhasil menyambung hidupnya setelah menjalani transplantasi hati di negeri komunis itu.

Namun sepertinya operasi pun terlambat untuk Vin. Kondisinya makin memburuk sampai akhirnya meninggal.  Jamsostek yang tak mencakup jaminan kesehatan memang mengeluarkan dana tunjangan kematian Vin. Dan suaminya kemudian menghibahkan dana itu kepada Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta untuk dikelola sebagai dana abadi untuk mengobati jurnalis yang tak memiliki jaminan sosial menyeluruh seperti dialami Vin. Kini, akankah BPJS menjawab kasus semacam Rezki dan Vin ini?

Jakarta, 28 Oktober 2011

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

Comments

One Response to “Vin dan Rezki: Kisah Buruh Tanpa Jaminan Sosial”

  1. komang
    December 29th, 2011 @ 11:01 am

    Wah, tulisan Arfi, tapi yang mengupload Jojo ya….Apapun ini tulisan yang menarik. AJI Jakarta sedang mengupayakan program dana kesehatan untuk jurnalis. Sekarang sedang mencari sistem dan vendor asuransi yang cocok.

Leave a Reply






  • Tag

  • Meta

  • Archives

  • Switch to our mobile site