Media Independen

Portal tentang Independensi Media

Feby dan buku I can (not) hear: memenangkan hati pembaca

Posted on | December 10, 2010 | 5 Comments

Feby Indirani dan buku I Can (not) Hear. Terpilih sebagai karya non-fiksi terfavorit. Photo by Jojo/Espira

Semakin banyak saja jurnalis yang menerbitkan buku dan mendapat apresiasi dari dunia literasi Indonesia. Kali ini, penghargaan diraih Feby Indirani, setelah bukunya berjudul I Can (not) Hear terpilih sebagai buku non-fiksi terfavorit dalam Festival Pembaca Indonesia, berdasarkan polling online yang digelar Goodreads.com.

“Menulis buku ini mendatangkan pengalaman berharga. Terutama karena selama ini saya termasuk tak terlalu peduli dena anak-anak berkebutuhan khusus,” kata Feby tentang buku yang pernah dibahas secara khusus di program televisi Kick Andy ini.

Ini buku tentang perjalanan seorang anak tuna rungu menuju dunia mendengar.  Sebanyak 352 halamannya berisi sharing kisah nyata bagaimana San C. Wirakusuma menjadi ibu yang membesarkan seorang anak berkebutuhan khusus. Sebuah kenyataan yang menurut Sansan, panggilan akrab lulusan Macquarie University di Sidney itu, bak mendapat ‘lotere’ tanpa pernah diminta tapi tak bisa ditolak.

Gwendolyne lahir melalui operasi caesar di Rumah Sakit Matilda di Hongkong pada sebuah musim semi, 18 Mei 2002. Semuanya tampak begitu indah sampai kemudian diketahui Gwen mengalami gangguan pendengaran. Maka, kisah-kisah selanjutnya bertutur tentang perjuangan sepasang orangtua ini, John dan Sansan Wirakusuma, dalam perjalanan bersama membesarkan dan mendidk Gwen. Dari Hongkong, Indonesia, hingga Australia. Dari pertengkaran, kerja-keras, hingga keberhasilan mereka membawa Gwen menemukan keajaiban dalam dunianya. Tumbuh sebagai anak cerdas dan tak beda dengan sebayanya.

Pasangan orangtua ini pun menjadi berkat dalam kisah mereka. Dari semula sibuk bertengkar mencari jawaban ‘mengapa’ dan ‘menyalahkan’ atas takdir yang mereka dapat, sampai kini mendirikan Yayasan Indonesia Mendengar bersama para orangtua anak-anak dengan gangguan pendengaran.

Feby Indirani, sudah menerbitkan sembilan buku, termasuk tiga di antaranya yang ditulis secara tim. Lulusan Jurnalistik Universitas Padjajaran ini mengawali karir wartawannya di Majalah Trust (2003-2004), Pusat Data dan Analisa Tempo (2004-2006) dan hingga kini menjadi reporter senior di BusinessWeek Indonesia sejak Agustus 2006. Awal tahun ini, Feby sempat pamit dari BusinessWeek untuk mengikuti dua fellowship di Singapura dan Berlin, tapi hasrat menjadi jurnalis kembali mengantarnya ke media ekonomi yang bermarkas di kawasan Raden Saleh, Jakarta Pusat itu. “Saya banyak menulis tentang Usaha Kecil dan Menengah. Ya, kisah-kisah inspiratif para wirausahawan muda di negeri ini,” katanya kepada Media Independen, dalam sebuah perbincangan santai di Bakoel Koffie, Cikini.

Dalam menulis I Can (not) Hear, lebih dari 9 bulan Feby berinteraksi langsung dengan Gwen dan keluarga Sansan. Menghayati dan merasakan langsung bagaimana membimbing seorang anak berkebutuhan khusus di negara seperti Indonesia. “Saya jadi tahu, betapa kurikulum pendidikan sekolah luar biasa di sini amat jauh dari memadai. Anak tunarungu hanya diajar untuk bicara, bukan memahami tentang sebuah makna,” paparnya.

Karena hanya fokus untuk diajar meniru, maka anak-anak itu pun tak ubahnya seperti burung beo. Mereka tak diajarkan jadi normal, sehingga tak heran kalau bicara pun jadinya seperti berlebihan, seperti membuka mulut terlalu lebar dan bersuara terlalu keras. “Menyedihkan. Apalagi setiap tahun ada 6 ribu anak Indonesia lahir dari gangguang pendengaran,” kata perempuan kelahiran 15 Februari 1979 ini.

Buku ini membawa kita ke sebuah pengalaman nyata. Bahwa anak-anak adalah karunia, bagaimanapun kondisi mereka. Sebagaimana Gwen telah mengajar ayah-ibunya tentang satu hal: jika keajaiban tak kunjung datang, berarti tugas kitalah untuk mencari sendiri dan memperjuangkannya. Harapan di dalam orangtua yang menolak untuk menyerah itulah yang kemudian membawa Gwen kepada sebuah keajaiban sebenarnya.
Jojo Raharjo

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

Comments

5 Responses to “Feby dan buku I can (not) hear: memenangkan hati pembaca”

  1. wahyu
    December 11th, 2010 @ 10:03 pm

    menarik, sayang banyak sekali kesalahan penulisan (typho-error) yang mengganggu.

  2. Feby
    December 16th, 2010 @ 5:15 pm

    @Mas Wahyu : iyaa mohon maaf itu cetakan pertama ya? tapi sudah diperbaiki banyak sejak cetakan kedua kok.. terimakasih sudah membaca :)

  3. Mukhanif Yasin Yusuf
    October 9th, 2011 @ 10:11 pm

    saya gak sengaja dapat bukunya dari teman. meski belum semuanya terbaca, tapi aku benar-benar salut. berkat buku itu juga aku nyari Yayasan Indonesia Mendngar ke sana-sini.
    tidak lain, karena aku juga penderita tuna rungu sejak usia 11 tahun. sejak SD-SMA bersekolah di lembaga pendidikan formal umum, berbaur dengan yang normal meski tanpa alat bantu dengar karena keterbatasan ekonomi.
    aku juga gak menyangka, di terima di UGM, meski sejak dulu samasekali todak ada UGM dalam benakku, tapi kakak angkatanku nyaranin ke UGM, aku nurut juga.
    jujur, menulislah yang membuatku melangkah sejauh ini, ia yang perlahan-lahan mengeluarkanku dari lubang kematian hidup. saya sendiri sudah menggeluti dunia tulis menulis lebih dari 5 tahun sejak kelas VIII Mts Negeri Karanganyar, Kab. Purbalingga, Jateng. da alhamdulillah, tulisanku sudah dimuat beberapa antologi dan majalah.
    impianku adalah menjadi penulis, editor, redaktur media cetak, makanya saya memilih jurusan sastra indonesia di UGM..

    bagaimana agar bisa menghubungi Bu Sansan??

    terima kasih dan maaf jika kepanjangan.

  4. Wahyu Dhyatmika
    February 10th, 2012 @ 11:34 am

    Dear Mukhanif,
    Untuk menghubungi tokoh yang ditulis dalam buku ini, Anda bisa menghubungi penulis artikel ini, Sdr. Jojo Raharjo di email jojo@jojoraharjo.com

    Semoga berguna

    salam,

  5. jojo
    February 10th, 2012 @ 7:52 pm

    @mas Yusuf: thanks responnya, saya sampaikan ke mbak Feby. Kebetulan Feby sekantor dengan saya di Kompas TV. Email nya di feby.indirani@kompas.tv

    Sukses selalu!

Leave a Reply






  • Tag

  • Meta

  • Archives

  • Switch to our mobile site