Ranesi Sudah Tak “Sexy”?
Posted on | June 11, 2011 | 5 Comments
“@Ranesi:Krn rencana penghematan anggaran pemerintah Belanda, ada kemungkinan Ranesi ditutup. Apa pendapat Anda? Simak Dimensi Selasa di www.ranesi.nl”
itulah salah satu “tweet” Radio Nederland Seksi Indonesia(7 Juni 2011).
Pikiran lantas menuju tahun 2007, ketika saya menghadap Henry Sandee, Kepala Seksi Bahasa Indonesia untuk belajar jurnalistik. Kami berkeliling ruang redaksi. Bertemu Agrar Sudrajat yang hanya berucap beberapa kalimat karena sedang “deadline”. Dan saya membicarakan ide liputan dengan Bari Muchtar, ketika itu mengasuh program Multikultur.
Tanpa alat broadcasting, saya meliput Pasar Malam Besar dan perempuan indonesia yang menikah dengan pria muslim Belanda. Ketika berada di “masjid Indonesia” Den Haag, saya merasakan ada nada sinis dari beberapa orang Indonesia tentang Radio Nederland yang punya sejarah panjang sejak tahun 1927.
Tahun 2010, bersama Aliansi Jurnalis Independen(AJI)Jakarta, saya kembali ke Hilversum yang dingin, tempat RNW(Radio Nederland Wereldomroep) menyapa dunia. Sore hari, setelah kursus selesai, saya sempatkan untuk melihat proses pembuatan dan penyiaran berita untuk publik di Indonesia.
Tua muda bekerja secara independen dan profesional. Ketika itulah saya merasa bahwa kerja junalistik punya dampak besar terhadap publik. Mungkin karena rasa tanggungjawab itu, para jurnalis Ranesi rela kembali ke kelas lagi, di tempat yang sama ketika kami belajar “New Media”.
Saya jarang mendengar siaran radio. Karena Ranesi bisa diakses lewat internet. Tapi jika Ranesi ditutup, bagaimana masyarakat Indonesia bisa mendapatkan informasi yang kredibel tentang Belanda?. Jurnalisme tak hanya hadir ketika bencana, tapi adalah alat untuk memajukan suatu bangsa.
“Sungguh sangat disayangkan kalau RNW ditutup, saya yang notabene tinggal dipelosok kalimantan akan kehilangan media hiburan dan informasi. RNW adalah teman kerjaku dikala aku lembur, juga jendela untuk mendengar informasi dunia dimana aku tak bisa mendapatkan dari media yang ada di Indonesia”Tulis Imam Khudori di Facebook RNW Indonesia.
Saya belum membalas “kicauan” dari Ranesi. Rasa penasaran membawa saya tuk berkorespondensi dengan salah satu kru Ranesi.
“Belum ada putusan resmi.Sejauh ini direksi RNW mengusulkan pemotongan anggaran sekitar 10 juta euro, dari total sekitar 46 juta. Korban utama, seksi bahasa Belanda, dengan alasan, siaran bahasa Belanda bisa memanfaatkan siaran publik yang ada.Bocoran usul dari parlemen, anggaran sisa 10 juta euro saja. Ini berarti Seksi Bahasa Indonesia pun akan kena. Padahal total anggaran Ranesi kurang dari dua juta euro” Balas Agrar Sudrajat.
Saya masih menyimpan tanya. Jika putusan terjadi, akankah hubungan Indonesia Belanda tak “sexy” lagi?. Karena bisa jadi informasi akan kabur. Doa saja tentu tak cukup. Petisi?
Comments
5 Responses to “Ranesi Sudah Tak “Sexy”?”
Leave a Reply











June 12th, 2011 @ 12:49 am
Ranesi punya sejarah panjang. Tak hanya siaran, tapi juga punya program pendidikan yang mencerdaskan, terutama bagi para jurnalis negara berkembang. Konten-konten siarannya pun terasa khas. Masih teringat saat Hari Kebebasan Pers Internasional 3 Mei 2011 lalu, Pak Bari Mochtar wawancara saya untuk menggambarkan bagaimana Indonesia dalam situasi kebebasan pers kekinian (peg nya jurnalis dituduh terlibat aksi teroris).
Maju terus, Ranesi, semoga sukses selamat dari ujian ini. Ayo Pemerintah Belanda, tunjukkan kepedulianmu…
June 12th, 2011 @ 11:18 am
Ada satu bagian yang mengganjal, kenapa orang Indonesia di Masjid Den Haag sinis pada Ranesi?
June 12th, 2011 @ 4:51 pm
@Wahyu:Benar sekali.Saya lupa dengan kalimat lengkap yg mereka ucapkan, sehingga khawatir kurang akurat. Tapi jika tidak salah, ada kata hati-hati terhadap RNW dan kekhawatiran terhadap pencitraan Islam. Waktu itu saya berbicara dengan pengurus masjid dan bertemu dengan beberapa anak muda Indonesia yang illegal.
August 1st, 2011 @ 3:11 am
Kabar tak menggembirakan memang. Ranesi dan radio-radio asing lainnya sepertinya memang dikurangi dana anggarannya, tersedot untuk menutup anggaran perang yang sangat besar.
Beberapa tahun sebelumnya dan baru-baru ini, sebagian radio asing itu justru dinaikkan dana anggarannya oleh pemerintah masing-masing.
Tapi agaknya, akibat perang berkepanjangan, maka saat ini kembali dikurangi dana anggarannya dan terpaksa akan mengurangi juga beberapa staf asing dan bahkan bisa jadi akan menutup beberapa seksi.
Jumlah pendengar radio asing utamanya di Indonesia tak bertambah signifikan dan mereka kebanyakan lebih suka mendengarkan radio daerah atau radio jaringan dalam negeri yang mungkin mereka anggap lebih sexy. Radio-radio itu lebih memfokuskan pada hiburan terutama musik, strategi untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang lebih besar.
Radio asing berkurang jumlah pendengarnya karena semakin menjamurnya televisi, baik di tingkat kota propinsi maupun ibukota.
Faktor lainnya ada yaitu berkurangnya nuansa kritis saat ini pada radio-radio asing tertentu, yang dulu dikenal kritis dalam pemberitaad dan ulasannya, yaitu tepatnya ketika masa pemerintahan Soeharto.
Sudut pandang sudah lama berubah menjadi seiring dengan penguasa-penguasa pasca era Soeharto, yang otoritarian tanpa sebuah demokrasi.
Selain berubahnya kebijakan dan sudut pandang, kelihatannya kualitas SDM itu juga agak menurun. Kabarnya, praktis hanya saudara Nuim yang di ABC Australia itu yang masih boleh bebas beraktualisasi, agak tajam dan kritis, dalam ulasan-ulssannya, itu pun terasa tak seperti dulu lagi.
Tapi, apapun, bagaimanapun, radio-radio asing memiliki value added yang nyatanya tak dimiliki radio-radio di Indonesia pada umumnya. Mereka selalu setia menyiarkan berbagai pengetahuan di negara-negara mereka.
Hal penting lainnya radio asing memiliki pedoman moral, yaitu tidak menyiarkan iklan komersil dan jasa komersil, apalagi bohong dan tak etis dari berbagai perusahaan tak jelas pula, seperti bagaimanana caranya menambah ukuran panjang dan besar itunya laki-laki serta bagaimana caranya membuat sempit itunya perempuan.
Iklan-iklan dan layanan komersil seperti itu tak dilarang oleh paraturan pemprop maupun pemerintah pusat dan menjadi santapan rohani siang malam pendengar semua usia. Sungguh melampaui norma dan aturan di negara demokrasi manapun.
Saya kira Ranesi dan radio-radio luar negeri lainnya tampaknya masih jauh lebih baik. KSN).
February 10th, 2012 @ 11:38 am
Dear Mas Karsono,
Terimakasih atas ulasannya.
salam,